Bojonegoro, sebuah kabupaten yang terletak di Jawa Timur, tak hanya dikenal dengan kekayaan alamnya, tetapi juga menyimpan kisah legenda yang memikat hati: Angling Dharma. Sosok ini bukan sekadar tokoh cerita rakyat biasa, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Bojonegoro, hingga daerah ini pun dijuluki "Bumi Angling Dharma".
Kisah Angling Dharma berakar kuat di Desa Wotan Ngare, Kecamatan Kalitidu, tempat masyarakat setempat meyakini bahwa sang tokoh pernah hidup dan bersemayam. Legenda ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, tetapi cermin nilai-nilai luhur tentang kesaktian, cinta, pengorbanan, dan konsekuensi dari sebuah keputusan.
Lebih dari Sekadar Pangeran Sakti
Angling Dharma digambarkan sebagai sosok yang rupawan, berhati mulia, dan memiliki kesaktian luar biasa bernama Aji Gineng. Kekuatan ini memungkinkannya memahami bahasa binatang, sebuah anugerah yang menjadikannya istimewa. Namun, di balik kesaktiannya, tersembunyi kisah cinta yang tragis dan pergolakan batin yang mendalam.
Also Read
Pertemuannya dengan Setyawati, sang istri, diawali dari kegemarannya mengembara. Namun, kehidupan rumah tangga mereka tak berjalan mulus. Konflik bermula ketika Angling Dharma memergoki perselingkuhan istri gurunya, Nagagini. Insiden ini memicu dendam yang kemudian mengantarkannya pada anugerah Aji Gineng dari Nagaraja, guru sekaligus suami Nagagini, sebelum Nagaraja moksa.
Aji Gineng dan Janji yang Membawa Petaka
Aji Gineng adalah sebuah anugerah, tetapi juga menjadi sumber malapetaka. Angling Dharma terikat janji untuk merahasiakan ilmu tersebut, bahkan dari istrinya sendiri. Akibatnya, Setyawati merasa terasingkan dan tersinggung karena melihat suaminya sering tertawa sendiri saat berinteraksi dengan hewan. Kebisuan Angling Dharma atas janji rahasia membuat Setyawati memilih jalan pintas dengan melakukan Pati Obong, ritual bunuh diri dengan membakar diri dalam api.
Di sinilah puncak drama terjadi. Angling Dharma berjanji untuk menemani Setyawati dalam kematian, sebuah bentuk pengorbanan demi cintanya. Namun, di saat terakhir, ia mendengar percakapan sepasang kambing yang menyadarkannya akan kesia-siaan tindakannya. Mengutamakan kepentingan rakyat dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin, ia pun membatalkan janjinya.
Pengkhianatan dan Pengasingan Diri
Keputusan Angling Dharma membatalkan janji sehidup semati dengan Setyawati dianggap sebagai pengkhianatan. Ia pun harus menanggung konsekuensi dengan menjalani hukuman pengasingan diri. Kerajaan Malawapati ia titipkan pada Batikmadrim, sebuah langkah bijaksana untuk memastikan keberlangsungan pemerintahan selama ia menjalani hukuman.
Relevansi Kisah Angling Dharma di Era Modern
Kisah Angling Dharma bukan sekadar legenda masa lalu, melainkan juga cerminan kehidupan manusia yang sarat dengan dilema dan pilihan sulit. Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya menimbang konsekuensi setiap tindakan, memegang teguh janji, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan.
Angling Dharma adalah simbol pemimpin yang mementingkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Ia adalah sosok yang mau belajar dari kesalahan dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Kisahnya mengingatkan kita bahwa kesaktian tanpa kebijaksanaan bisa membawa petaka. Cinta tanpa logika bisa membutakan. Dan, pengorbanan haruslah dipikirkan secara matang.
Legenda Angling Dharma, dengan segala kompleksitasnya, adalah warisan budaya yang patut kita lestarikan. Kisahnya bukan hanya hiburan semata, tetapi juga pelajaran berharga bagi kita semua. Di balik kisah cinta, kesaktian, dan pengorbanan, tersirat pesan moral yang relevan sepanjang zaman. Dan, dengan memaknai kisahnya, kita juga turut menghargai kearifan lokal yang tersimpan di Bojonegoro, Bumi Angling Dharma.