Film "The Perfect Husband" yang diadaptasi dari platform Wattpad, kemudian menjadi novel, dan kini layar lebar, menawarkan kisah yang cukup menghibur meski dengan beberapa catatan. Film ini mengisahkan Ayla (diperankan Amanda Rawles), seorang siswi SMA yang mendapati dirinya dijodohkan dengan Arsen (Dimas Anggara), seorang pilot muda yang mapan. Kejutan ini tentu saja membuat Ayla berang, apalagi ia tengah menjalin hubungan dengan Ando (Maxime Bouttier), seorang pemuda yang dianggap ayahnya, Tio (Slamet Rahardjo), tidak memiliki masa depan.
Konflik utama film ini terletak pada perjuangan Ayla menolak perjodohan dan bagaimana Arsen dengan sabar menghadapi penolakan tersebut. Alur cerita terbilang ringan dan mudah diikuti, cocok untuk penonton yang mencari hiburan tanpa perlu berpikir terlalu keras. Namun, di sinilah letak tantangannya. Keringanan alur kadang membuat penokohan terasa kurang mendalam. Karakter-karakter dalam film ini seperti kehilangan greget dan emosi yang seharusnya bisa lebih dieksplorasi. Ayla, misalnya, meski digambarkan sebagai gadis yang pemberontak, kurang menampilkan kedalaman emosi yang meyakinkan. Begitu pula dengan Arsen, karakter pilot yang seharusnya bisa menonjol, justru terasa datar dan kurang berkesan.
Salah satu poin yang patut disayangkan adalah pengambilan gambar dan editing di bagian akhir cerita. Visual yang kurang kuat membuat ending terasa kurang memuaskan. Padahal, dengan sentuhan yang lebih kreatif, adegan-adegan kunci bisa lebih berkesan dan membekas di benak penonton.
Also Read
Kendati demikian, film ini tetap memiliki daya tariknya sendiri. "The Perfect Husband" bisa menjadi tontonan yang cukup menghibur untuk mengisi waktu luang. Kisah perjodohan yang dibalut dengan konflik-konflik ringan, meskipun tidak menawarkan sesuatu yang baru, masih mampu menyentuh sisi emosional penonton. Performa para aktor, meski belum maksimal, tetap mampu menghidupkan karakter-karakter dalam cerita ini.
Film ini mengingatkan kita pada stereotip bahwa sosok "ideal" haruslah mapan secara materi dan profesi, sementara karakter "berantakan" seringkali dianggap tidak punya masa depan. Ini menjadi insight yang menarik untuk dikaji lebih dalam. Benarkah kesuksesan hanya diukur dari materi dan karier? Apakah cinta dan kebahagiaan bisa dibatasi oleh perbedaan status sosial dan ekonomi?
Akhir kata, "The Perfect Husband" adalah film yang cukup menghibur dengan tema yang relevan dengan kehidupan remaja. Meskipun masih memiliki kekurangan, film ini tetap layak ditonton, terutama bagi mereka yang menyukai cerita romansa ringan dengan sentuhan konflik keluarga. Mungkin, kita bisa belajar bahwa kesempurnaan dalam hubungan bukanlah tentang sosok yang "sempurna", tetapi bagaimana kita menerima dan mencintai dengan segala kekurangan yang ada.